Komunikasi Perkantoran
A. Komunikasi
Dalam pengertian yang umum komunikasi
adalah penyampaian
warta yang mengandung macam-macam keterangan dari seseorang kepada oranng lain.
Dalam komunikasi itu sekaligus tercakup penyalinan secara cermat
gagasan-gagasan dari seseorang ke dalam pikiran orang lain itu sehingga
tercapai pengertian yang ditentukan atau menimbulkan tindakan-tindakan yang
diharapkan. Kata komunikasi atau communication dalam bahasa
inggris berasal dari kata latin communis yang berarti sama, communico,
communication atau communicare yang berart membuat sama (to make common).
Istilah pertama (communis) paling sering disebut sebagai asal kata komunikasi,
yang merupakan akar dari kata – kata latin lainnya yang mirip. Komunikasi menyarankan
bahwa suatu pikiran , suatu makna, atau suatu pesan dianut secara sama. Akan
tetapi definisi kontemporer manyarankan bahwa komunikasi merujuk pada cara
berbagi hal – hal tersebut, seperti dalam kalimat “ kita berbagi pikiran” kita
mendiskusikan makna dan kita mengirimkan pesan. Berbicara tentang definisi
komunikasi, tidak ada definisi yang benar ataupun yang salah. Komunikasi didefinisikan
secara luas sebagai “ berbagai pengalaman”. Sampai batas tertentu, setiap
makhluk dapat dikatakan melakukan komunikasi dalam pengertian berbagai
pengalaman.[1]
Dalam garis
besarnya komunikasi memiliki unsur – unsur sebagai berikut :
1. Pengirim warta (communicator).
2. Warta,
Keterangan , atau buah pikiran.
3. Alat
atau sarana untuk meyampaikan warta.
4. Isyarat
yang dipancarkan oleh alat/ saran yang bersangkutan.
5.
Penerima
warta (communicate).
Jadi,
kalau misalnya seorang kepala pabrik melaporkan hasil pabrik kepada direktur perusahaan, maka dalam hal ini terjadi communicaton.
Tetapi dalam
suatu organisasi atau kantor yang sudah besar, proses komunikasi
administrasinya tidaklah sedemikian sederhana. Masih banyak unsur-unsur lainnya
yang masuk ke dalam proses itu seperti misalnya berbagai alat yang
dipakainya atau tatacara penyampain wartanya.
Komunikasi biasanya terjadi secara terencana dan berkesinambungan. Komunikasi
me rupakan proses yang dinamis dan timbal balik, seperti yang tersusun sebagai
berikut :
1. Pengirim
mempunyai ide dan berkeinginan untuk membaginya.
2. Pengirim
menyandikan ide dengan memutuskan bentuk pesan ( tulisan, ekspresi wajah,
isyarat gerak ), panjang , organisasi, nada dan tipe yang semuanya tergantung
pada ide audiens, pembawaan diri maupun mood pengirim.
3. Pengirim
mengirimkan pesan dengan memilih jalur komunikasi (verbal atau non verbal,
bicara atau tertulis ) dan media (telepon, surat, memo, e-mail, laporan atau
face to face ) yang tergantung pada pesan, lokasi audiens, kebutuhan dan
kecepatan diterima dan formalitas yang dibutuhkan.
4. Penerima
mendapatkan pesan.
5. Penerima
menguraikan pesan. Dengan memahami pesan yang disampaikan dan menyimpannya
dalam pikiran. Jika mereka telah memahami pesan yang diterima dengan arti yang
sama, maka itu sesuai dengan yang dimaksud pengirim.
6. Penerima
memberikan feedback / mengirim balasan. Jika mereka belum mengerti, kita harus
menjelaskan hingga mengerti.
Komunikasi
menurut Bovee di definisikan sebagai proses mengirim dan menerima pesan dan
dikatakan efektif apabila pesan yang sampaikan dapat memberikan stimulus dan
dimengerti oleh orang lain dan mendorong mereka
agar bertindak sesuai dengan pesan tersebut. Sedangkan Robbin
mendefinisikan sebagai proses pemindahan data dan memahami makna yang
dimaksudkan.
Komunikasi yang
terjadi menurut Scott dan Mitchell memiliki 4 fungsi yakni :
1.
Fungsi Kontrol.
·
Bahwa setiap organisasi mempunyai
hierarki dengan wewenang yang menyertainya.
·
Komunikasi
formal dapat dilakukan untuk mengontrol karyawan dengan menanyakan ulang
deskripsi pekerjaannya.
·
Kepada siapa melaporkan
hasil pekerjaannya, dan hal-hal lain yang membutuhkan komunikasi dengan atasan
mereka.
·
Komunikasi informal juga dapat
mengontrol perilaku karyawan, misalnya jika salah satu karyawan bekerja terlalu
lambat, teman yang lain akan mengkomunikasikan ketidakpuasan mereka dengan
menjauhi ataupun mengejek bahwa yang bersangkutan sangat lambat.
2. Fungsi
Motivasi.
·
Fungsi ini biasanya dilakukan melalui pemberian
feedback kepada bawahan mengenai apa yang telah mereka lakukan.
·
Sebaik apa mereka mengerjakannya.
·
Dan
apa yang sebaiknya dilakukan untuk meningkatkan kinerjanya di masa depan.
3. Fungsi
Emosi.
·
Pada dasarnya salah satu tujuan bekerja
adalah melakukan interaksi social.
·
Interaksi social melalui komunikasi
(formal maupun informal).
·
Masing-masing anggota organisasi dapat
mengekspresikan emosi negative, misalnya frustrasi atau tidak puas dengan
peklerjaan yang dikerjakannya selama ini kepada teman sekerja.
4. Fungsi
Informasi.
·
Fungsi ini berhubungan dengan memperlancar pengambilan
keputusan yang dapat dilakukan oleh pihak (Pemimpin) manajemen.
·
Dengan
mentransfer data dan alternative pilihan
yang ada, individu atau organisasi akan dengan mudah mengambil keputusan.[2]
B. Komunikasi yang
Efektif.
Komunikasi yang efektif sangat dibutuhkan dalam dunia
perkantoran / perusahaan baik secara verbal, nonverbal maupun tulisan
untuk meningkatkan produktivitas, baik bagi pegawai maupun perusahaan. Dengan
memiliki ketrampilan komunikasi yang baik maka akan mengantisipasi timbulnya
masalah, membuat keputusan, mengkoordinasikan arus kerja, mensupervisi yang
lain, membangun hubungan maupun mempromosikan produk dan jasa yang ditawarkan
oleh perusahaan. Tanpa komunikasi yang baik maka akan menimbulkan kesalah
fahaman dalam menginterpretasikan informasi yang disampaikan.
Ciri pesan yang efektif : (1) Menyediakan informasi
yang praktis (2) Memberikan fakta dibandingkan kesan (3) Mengklarifikasi dan
menyingkat informasi (4) Menyatakan tanggungjawab secara jelas (5) Membujuk dan
menyediakan rekomendasi.
Manfaat daripada komunikasi yang efektif antara lain :
(1) Pemecahan masalah lebih cepat (2) Keputusan yang lebih kuat (3)
Meningkatkan produktivitas (4) Arus kerja yang lebih siap dan efektif (5)
Hubungan bisnis yang lebih kuat (6) Materi promosi yang lebih jelas (7)
Meningkatkan citra professional[3].
Komunikasi
perkantoran dewasa ini tidak hanya satu macam. Suatu pembagian jenis-jenis komunikasi
perkantoran yang sistematis diberikan oleh J. C Denyer (office
Management, 1975) yang membedakanya dalam:
1.
Sistem
Komunikasi Tulisan (Written Communication)
Ini meliputi surat yang dikirimkan
melalui surat pos atau petugas penghantar sendiri, telegram, dan warkat
tertulis lainnya.
2.
Sistem
Komunikasi
Lisan ( Oral Communication)
Ini meliputi telepon untuk hubungan ke
luar maupun dalam kantor sendiri, radio, atau hanya corong suara.
3.
Sistem
Mekanis (Mechanical System).
Ini meliputi pipa udara, ban berjalan,
teleks sampai televisi.
4.
Sistem
Panggilan Petugas( Staff Location System).
Sistem
komunikasi ini dipakai untuk mencari , menemukan, dan memanggil seseorang
petugas dalam suatu lingkungan bangunan atau badan usaha yang luas seperti
misalnya : manajer produksi di beberapa pabrik atau dokter di hospital.
Sarahanya meliputi system radio, pengeras suara, bunyi bel, atau tanda lampu.
Selanjutnya
, segala cara dan alat utuk mengadakan hubungan kalau mungkin hendaknya
dipergunakan. Dengan demikian, warta yang dikehendaki dapat mencapai tempat
tujuanya secara efektif. Cara dan Alat yang dapat dipergunakan
untuk mengadakan hubungan dalam sesuatu organisasi ialah:
·
Wawancara Khusus.
·
Rapat kerja, konferensi atau pertemuan segenap anggota organisasi atau
pegawai dalam sesuatu perusahaan.
·
Pembicaraan telepon.
·
Penerbit
, misalnya warta harian yang diterbitkan oleh sebuah perusahaan untuk pekerja ,
atau majalah , buku, petunjuk, buku pedoman, brosur amanat dari pimpinan
organisasi ataupun penerbit-penerbit khusus lainnya.
·
Surat edaran.
·
Papan pengumuman.
·
Laporan tahunan kepada para anggota
organisasi atau pegawai dalam suatu perusahaan.
·
Surat yang dikirimkan langsung kepada
pegawai.
·
Film, slides, dan alat-alat lainnya
yang serupa.
Kalau
semua daya upaya seperti diatas dijalankan , pastilah terjamin
hubungan-hubungan yang lebih baik antar pihak pimpinan dengan bawahanya maupun
antara para bawahan itu. Itulah sebabnya Barnard mengatakan bahwa syarat
pertama bagi organisasi ialah adanya orang-orang yang dapat mengadakan
komunikasi satu sama yang lainnya. Dan tugas pertama pucuk pimpinan organisasi ialah
menciptakan dan memelihara sebuah system komunikasi.
Untuk
menetapkan sesuatu sarana yang tepat bagi sesuatu keperluan , manajer
perkantoran perlu mempertimbangkan 7 faktor utama yang dikemukakan
oleh Mills dan Standingford :
·
Kecepatan
·
Kecermatan
·
Keselamatan
·
Kerahasiaan
·
Warkat
·
Kesan
·
Biaya
Ketujuh
faktor itu tidak dapt secara mutlak dikatakan yg satu penting daripada yg
lainnya . Masing-masing factor harus diperhatikan dan dinilai untuk sesuatu
keperluan, sarana , dan system komunikasi.[4] Dalam pemenuhan suatu komunikasi yang efektif, Bovee
juga memaparkan beberapa azas komunikasi agar dapat berkomunikasi dan
menghasilkan komunikasi yang efektif , antara lain :
·
Komunikasi berlangsung antara pikiran seorang dengan pikiran orang lain.
·
Orang hanya bisa memahami tentang suatu hal jika menghubungkannya dengan
hal lain yang telah dimengerti.
·
Orang yang melakukan komunikasi memiliki kewajiban agar apa yang dia
katakana bisa dimengerti oleh lawan bicaranya.
·
Orang yang tidak faham dengan suatu penjelasan,memiliki kewajiban untuk
meminta penjelasan lagi.[5]
C. Mendengarkan
Mendengar
mempunyai makna dapat menangkap bunyi dengan telinga. Sadar atau tidak, kalau
ada bunyi, alat pendengar kita akan menangkap atau mendengar bunyi-bunyi
tersebut. Proses mendengar terjadi tanpa perencanaan tetapi datang secara
kebetulan. Bunyi-bunyi yang hadir di telinga itu mungkin menarik perhatian,
mungkin juga tidak.
Mendengarkan
adalah merespon atau menerima bunyi secara disengaja. Memperhatikan dengan baik
apa yang dikatakan oleh orang lain yang sudah mulai melibatkan unsur kejiwaan
yang berarti aktivitas mental sudah muncul.
Mendengarkan adalah suatu kegiatan yang amat sangat penting. Salah satu
indera yang sangat memberikan pengaruh bagi kita untuk menerima atau mengetahui
suatu informasi. Terbukti dalam suatu bagan penelitian di USA dijelaskan bahwa
persentase waktu dalam berkomunikasi berdasarkan jalur komunikasi tercatat 45%
mendengarkan, 30% berbicara , 16% membaca, 9% menulis. Menurut Lesikar, Pettit
dan Flatley mendengarkan mempunyai 3 aktiviats dasar :
·
Memahami. Dalam memahami ini terdapat dua hal yang digunakan untuk
memahami kata – kata yakni (1) Seberapa baik telinga kita mendengarnya (2)
Perhatian kita terhadap apa yang kita dengarkan.
·
Menyaring. Setiap orang dalam proses penyaringan informasi dipengaruhi
oleh pengalaman dan kemampuan berkomunikasi seseorang.
·
Mengingat. Kemampuan dalam mengingat memang sangat terbatas, namun
ingatan itu akan selalau terekam oleh otak jika informasi itu sering kita
gunakan dalam kehidupan sehari – hari.
Mendengarkan menurut Locker terdapat 3 elemen yakni :
·
Elemen internal. Mendengarkan akan efekif jika kita tidak hanay mendengar
pesan yang disampaikan tapi juga beusaha memahami maksud dari pengirim pesan.
·
Elemen Konstektual. Dalam mendengarkan juga dipengaruhi dengan situasi
dan kondisi lingkungannya. Jika sikon tidak memungkinkan untuk terjadinya
komunikasi, maka komunikasi yang terjad sulit ntuk bisa difahami. Misalnya,
gangguan suara, hambatan waktu.
·
Elemen hubungan. Bentuk hubungan dalam proses komunikasi juga menjadi
factor penting. Semakin baik hubungan antara pengirim pesan dan penerima pesan
maka proses komunikasi yang terjadi akan jauh lebih baik.[6]
Dalam proses mendengarkan juga terdapat kiat untuk meningkatkan
kemampuan mendengarkan yang baik : (1) Komitmen untuk memperbaiki (2) Fokus (3)
Meningkatkan akurasi penyaringan informasi (4) konsentrasi untuk mengingat.
D. Komunikasi
dalam organisasi
Komunikasi organisasi adalah pengiriman dan penerimaan
berbagai pesan organisasi di dalam kelompok formal maupun informal dari suatu
organisasi (Wiryanto, 2005).
Griffin menyadur tiga pendekatan untuk membahas komunikasi organisasi.
Ketiga pendekatan itu adalah sebagai berikut:
·
Pendekatan sistem. Karl Weick (pelopor pendekatan
sistem informasi) menganggap struktur hirarkhi, garis rantai komando
komunikasi, prosedur operasi standar merupakan mungsuh dari inovasi. Ia melihat
organisasi sebagai kehidupan organis yang harus terus menerus beradaptasi
kepada suatu perubahan lingkungan dalam orde untuk mempertahankan hidup.
Pengorganisasian merupakan proses memahami informasi yang samar-samar melalui
pembuatan, pemilihan, dan penyimpanan informasi. Weick meyakini organisasi akan
bertahan dan tumbuh subur hanya ketika anggota-anggotanya mengikutsertakan
banyak kebebasan (free-flowing) dan komunikasi interaktif. Untuk itu,
ketika dihadapkan pada situasi yang mengacaukan, manajer harus bertumpu pada
komunikasi dari pada aturan-aturan.
Teori Weick tentang pengorganisasian
mempunyai arti penting dalam bidang komunikasi karena ia menggunakan komunikasi
sebagai basis pengorganisasian manusia dan memberikan dasar logika untuk
memahami bagaimana orang berorganisasi. Menurutnya, kegiatan-kegiatan
pengorganisasian memenuhi fungsi pengurangan ketidakpastian dari informasi yang
diterima dari lingkungan atau wilayah sekeliling. Ia menggunakan istilah
ketidakjelasan untuk mengatakan ketidakpastian, atau keruwetan,
kerancuan, dan kurangnya predictability. Semua informasi dari lingkungan
sedikit banyak sifatnya tidak jelas, dan aktivitas-aktivitas pengorganisasian
dirancang untuk mengurangi ketidakpastian atau ketidakjelasan.
·
Pendekatan budaya. Asumsi interaksi simbolik mengatakan
bahwa manusia bertindak tentang sesuatu berdasarkan pada pemaknaan yang mereka
miliki tentang sesuatu itu. Mendapat dorongan besar dari antropolog Clifford Geertz, ahli teori
dan ethnografi, peneliti budaya yang melihat makna bersama yang unik adalah
ditentukan organisasi. Organisasi dipandang sebagai budaya. Suatu organisasi
merupakan sebuah cara hidup (way of live) bagi para anggotanya,
membentuk sebuah realita bersama yang membedakannya dari budaya-budaya lainnya.
Pendekatan ini mengkaji cara
individu-individu menggunakan cerita-cerita, ritual, simbol-simbol, dan
tipe-tipe aktivitas lainnya untuk memproduksi dan mereproduksi seperangkat
pemahaman.
·
Pendekatan kritik. Stan Deetz, salah seorang
penganut pendekatan ini, menganggap bahwa kepentingan-kepentingan perusahaan
sudah mendominasi hampir semua aspek lainnya dalam masyarakat, dan kehidupan
kita banyak ditentukan oleh keputusan-keputusan yang dibuat atas kepentingan
pengaturan organisasi-organisasi perusahaan, atau manajerialisme.
Bahasa adalah medium utama dimana
realitas sosial diproduksi dan direproduksi.
Manajer dapat menciptakan kesehatan
organisasi dan nilai-nilai demokrasi dengan mengkoordinasikan partisipasi stakeholder
dalam keputusan-keputusan korporat.[7]
Baik organisasi besar ataupu kecil, sharing
informasi merupakan bagian dari dunia bisnis yang mengikat satu sama lain. Jika
kita masuk suatu orgnisaasi, kita sedang
memasuki rantai informasi. Apakah sebagai manajer atau pegawai biasa, kita
mempunyai informasi yang dibutuhkan orang lain untuk melaksanakan tugas
masing-masing. Dalam kenyataanya, komunikasi memiliki dua bentuk
yakni :
·
Komunikasi
Internal.
Merupakan
bentuk pertukaran informasi dan ide di dalam organisasi sebagai pegawai.
Mengetahui keadaan dilapangan yang menyebabkan penjualan perusahaan menurun.
Informasi inilah yang dibutuhkan supervisor
atau manajer kita.
·
Komunikasi
Eksternal.
Dilakukan
untuk membawa informasi masuk atau keluar dari
organisasi guna mencapai tujuan organisasi, dan biasanya dilakukan dengan
pelanggan maupun masyarakat yang berhubungan dengan perusahaan. Misalnya, melakukan korespondensi, melaporkan
kinerja perusahaan kepada masyarakat (jika termasuk perusahaan terbuka)
melakukan kegiatan sosial, dan lain-lain.
Tidak hanya jenis
komunikasi internal dann eksternal dalam organisasi, namun juga terdapat
pembagian komunikasi lain dalam organisasi, yakni :
·
Komunikasi Formal.
Komunikasi ini dibangun oleh struktur organisasi. Dalam hal ini terdapat dua
proses komunikasi yaitu komunikasi dari atas ke bawah , komunikasi dari bawah
ke atas dan komunikasi horizontal. (1) Komunikai dari atas ke bawah adalah
komunikasi yang terjadi antara atasan dengan bawahandengan tujuan
mendiskripsikan intruksi tugas yang
bersifat spesifik yang seharusnya dilakukan oleh orang yang menduduki jabatan
tersebut dengan waktu yang telah ditentukan. Melalui komunikasi dari atas ke
bawah seorang pemimpin dapat melakukan koordinasi terhadap bagian - bagian
organisasi yang ada di bawah tanggung jawabnya. (2) Komunikasi dari
bawah ke atas adalah komunikasi yang terjadi antara bawahan dengan atasan, hal
ini untuk memperoleh umpan balik dari para bawahan. Keuntungan dari proses
komunikasi ini adalah terciptanya saluran yang menyebabkan manajemen dapat
mengukur iklim organisasi dan mengenali bidang yang menjadi peerhatian para
bawahan. Seperti iklim organisasi yang tidak kohesif atau produktivitas yang
rendah dalam organisasi. (3) Komunikasi horizontal adalah komunikasi yang
terjadi diantara orang – orang yang menduduki posisi yang secara hirarkis pada
tingat yang sama. Komunikasi ini memiliki fungsi dalam organisasi yang bersifat
integrative dan koordinatif. Dalam konteks posisi tingkat tinggi dalam
organisasi bisnis, para direktur dalam bidang pemasaran, keuangan dan produksi
dengan komunikasi ini dapat melakukan koordinasi dalam upaya membangun rencana
integratif perusahaan pada lima tahun ke depan. Koordinasi pada individu yang
memiliki jabatan yang sama sangat membantu tercapainya tujuan perusahaan atau
tujuan organisasi pada umumnya.
·
Komunikasi informal.
Komunikasi ini terjadi dengan adanya individu – individu yang saling
berhubungan secara spontan atau ilmiah. Komunikasi ini bisa dijadikan pelengkap
komunikasi formal dalam suatu organisasi.
Komunikasi informal dapat terjadi karena beberapa sebab: (1) apabila informasi yang diterima dirasakan
belum atau sulit untuk diperoleh maka orang – orang tertentu berupaya untuk mendapatkan
melalui komunikasi informal. (2) apabila timbul ketidak nyamanan, maka untuk
menghindarai terjadinya rasa tidak nyaman, mereka butuh melakukan komunikasi
informal. (3) apabila orang tidak menyukai orang lain, maka mereka mendapatkan
keuntungan dengan menyebar rumor negative tentang orang tersebut melalui
komunikasi informal. (4) apabila seseorang memperoleh informasi baru, dan dia
menginginkan agar orang lain juga bisa tahu, maka melalui komunikaso informal
bisa tersalurkan.
Dampak negatife dari komunikasi
informal adalah penyampaian informasi yang kurang akurat dan pada kesempatan
berikutnya dapat menyebabkan ketidakpuasan atau kecemasan pada unsure – unsure
yang ada dalam organisasi. Selain dampak negative, juga terdapat dampak positif
diantaranya adalah : (1) Dapat memelihara perasaan memiliki dalam organisasi
dan rasa aman individu-individu dalam organisasi. (2) Dapat menjadi ssemacam
saluran yang aman bagi para anggota untuk mencurahkan emosi mereka. (3) Para
pemimpin akan lebih cermat dalam melaukan
implementasi (bertindak ) dan perencanaan berdasarkan komunikasi informal
dengan para bawahan.[8]
E. Hambatan Komunikasi dan
kiat menghindarinya
Banyak hal yang bisa menghambat untuk
terjadinya komunikasi yang efektif. Menurut Leonard R.S. dan George Strauss
dalam Stoner james, A.F dan Charles Wankel sebagaimana yang dikutip oleh
Herujito (2001), ada beberapa hambatan terhadap komunikasi yang efektif, yaitu
:
·
Mendengar. Biasanya kita mendengar apa yang ingin
kita dengar. Banyak hal atau informasi yang ada di sekeliling kita, namun tidak
semua yang kita dengar dan tanggapi. Informasi yang menarik bagi kita, itulah
yang ingin kita dengar.
·
Mengabaikan informasi yang bertentangan dengan apa yang kita ketahui.
·
Menilai sumber. Kita cenderung menilai siapa yang
memberikan informasi. Jika ada anak kecil yang memberikan informasi tentang
suatu hal, kita cenderung mengabaikannya.
·
Persepsi yang berbeda. Komunikasi tidak akan
berjalan efektif, jika persepsi si pengirim pesan tidak sama dengan si penerima
pesan. Perbedaan ini bahkan bisa menimbulkan pertengkaran, diantara pengirim
dan penerima pesan.
·
Kata yang berarti lain bagi orang yang berbeda. Kita
sering mendengar kata yang artinya tidak sesuai dengan pemahaman kita.
Seseorang menyebut akan datang sebentar lagi, mempunyai arti yang berbeda bagi
orang yang menanggapinya. Sebentar lagi bisa berarti satu menit, lima menit,
setengah jam atau satu jam kemudian.
·
Sinyal nonverbal yang tidak konsisten. Gerak-gerik
kita ketika berkomunikasi – tidak melihat kepada lawan bicara, tetap dengan
aktivitas kita pada saat ada yang berkomunikasi dengan kita-, mempengaruhi proses komunikasi yang
berlangsung.
·
Pengaruh emosi. Pada keadaan marah, seseorang akan
kesulitan untuk menerima informasi.
Apapun berita atau informasi yang diberikan, tidak akan
diterima dan ditanggapinya.
·
Gangguan. Gangguan ini bisa berupa suara yang
bising pada saat kita berkomunikasi, jarak yang jauh, dan lain sebagainya.[9]
Semua kegiatan
memiliki hambatan dalam proses terlaksananya, termasuk komunikasi sendiri juga
terdapat hambatan. Hambatan komunikasi muncul ketika pesan yang disampaikan
oleh pengirim tidak bisa difahami secara tepat dengan penerima pesan. Jika
seperti itu maka akan menghambat jalannya komunikasi yang efektif. Hal tersebut
bisa terjadi dikarenakan adanya perbedaan persepsi dan bahasa, pendengaran yang
buruk , keterlibatan emosional dan lain sebagainya antara pengirim pesan dengan
penerima pesan. Robbin mencatatkan bahwa hambatan komunikasi terjadi
dikarenakan :
·
Perbedaan bahasa dan persepsi.
·
Gangguan komunikasi. Menurut Locker gangguan komunikasi ada 2 yaitu: (1)
gangguan emosional. Seringkali orang mencampurkan masalah pribadi dengan
kondisi yang dihadapi sekarang. Yang pada akhirnya emosi kita kalut dan
terpancing untuk marah, jika hal itu tetap berlangsung maka orang justru akan
salah faham dengan komunikasi yang sedang dilakukan atau bahkana mengabaikan
dengan komunikasi yang sedang berlangsung. Oleh karena itu kit harus lebih
professional apalagi dalam dunia perkantoran atau perusahaan. (2) Gangguan
Fisik. Pengirim atau penerima
mungkin terganggu oleh hambatan yang bersifat fisik seperti akustik yang jelek,
tulisan yang tidak dapat dibaca, cahaya yang redup, atau masalah kesehatan.
Gangguan fisik bisa mengganggu konsentrasi dalam berkomunikasi. Setiap
komunikator selalu mengharapkan agar komunikasi yang dilaksanakannya dapat
mencapai tujuan dengan apa yang telah diharapakannya. Sekalipun gangguan fisik
ini memiliki dampak yang kecil,namun dalam suatu komunikasi tidak akan
mendapatkan hasil yang memuaskan jika masih terdapat suatu hambatan karena
mengurangi konsentrasi penerima.
·
Overload Informasi. Dalam dunia bisnis komunikasi
merupakan hal yang sangat penting dan harus akurat, karena berhadapan dengan
orang banyak. Tidak hanya dengan para pekerja sendiri tapi juga dengan pihak
lain atau audiens. Keseringan dalam bisnis, komunikasi terganggu dikarenakan
materinya rumit dan kontroversial. Seperti telah terbukti dalam penelitian di
USA bahwa setiap harinya diorganisasi
Gallup mengirim dan menerima pesan sekitar 190 pesan. Hingga pada akhirnya
sebagain orang terbenam dalam pesandan akan mengabaikan berita yang menurut
mereka tidak penting, sehingga menunda menanggapinya atau bahkan menjawab tapi
dengan jawaban yang tidak lengkap.
·
Penyaringan yang tidak tepat. Dalam hal menyaring
harus diakukan secara tepat. Jika dalam penyaringan sutau berita ata pesan kita
tidak baik,maka akan menambah kesalahfahaman atau gangguan komunikasi. Karena
sudah tentu pesan atau berita yang kita sampaikan tidak sesuai dengan yang
dimaksudkan. Atau bahkan isi pesan berubah atau tidak sesuai kepada penerima
yang dituju. Penyaringan disini maksudnya adalah membuang atau menyingkat suatu
pesan atau informasi sebelum ditujukan
pada penerima.
Dari beberapa hambatan tersebut, ada beberapa
kiat yang dapat dilakukan untuk meminimalisir dampak hambatan tersebut. Antara lain adalah:
·
Melakukan
pendekatan yang berpusat pada audiens, hal utama yang harus dilakukan dalam
berkomunikasi adalah memfokuskan diri pada audiens yang akan dituju. Dengan
melakukan ini, komunikasi yang dilakukan dapat dipastikan efektif, karena kita
akan berusaha menyajikan pesan atau informasi lebih berarti pada sisi
penerimaan untuk mendapatkan feedback yang diharapkan atas terjadinya
komunikasi.
·
Mengembangkan iklim komunikasi yang terbuka, dengan cara
mengimplementasikan debirokratisasi organisasi, dengan mengurangi level pada
struktur organisasi. Semakin sedikit hubungan dalam rantai komunikasi, semakin
kecil salah pengertian yang akan terjadi. Dengan kata lain, struktur yang datar
dan rentang kendali yang lebar semakin kecil kemungkinan terjadinya distorsi
pesan dibandingkan struktur yang tinggi dan rentang kendali yang sempit.
Walaupun struktur datar tidak selalu lebih baik, namun tren selama ini
menunjukkan bahwa struktur tersebut cukup efektif dan efisien dalam upaya
menghemat biaya.
·
Komitmen
untuk berkomitmen secara etis, komit pada komunikasi yang etis dan sesuai
dengan norma yang berlaku akan membuat lebih mudah berkomunikasi dengan orang
lain. Orang yang tidak etis
biasanya egois dan tidak peduli salah atau benar, serta menghalalkan segala
cara untuk mencapai hasil akhir. Orang yang etis pada umumnya dapat dipercaya,
adil dan tidak memihak, menghargai hak orang lain dan memperhatikan dampak tindakan
mereka terhadap masyarakat.
·
Menggunakan
pesan yang singkat dan efektif, konsep 4 W (what, why, how and when) dapat
diterapkan untuk berkomunikasi. Informasi apa yang akan disampaikan. Mengapa
harus menyampaikannya, bagaimana akan menyampaikannya akan menentukan tingkat
keberhasilan komunikasi yang akan dilakukan.[10]
[2] Badri Munir Sukoco,
Manajemen Administrasi Perkantoran Modern ( Surabaya : Erlangga, 2007), 49-50.
[4] http://mardiahrahmawati.blogspot.com/2012/04/komunikasi-perkantoran.html diunduh pada tanggal 12 maret 2013.
[8] Fattah Hanurawan. Psikologi
Sosial Suatu Pengantar ( Bandung : PT Remaja Rosdakara, 2010) , 150-153.
[9] http://fajar-agni-fauzan.blogspot.com/2012/05/hambatan-dalam-komunikasi.html.diunduh pada tanggal 18 Maret 2013.
[10] Badri Munir Sukoco, Manajemen
Administrasi Perkantoran Modern ( Surabaya : Erlangga, 2007), 56-58.