Sabtu, 11 Februari 2017

MAKALAH SISTEM PENGENDALIAN MANAJEMEN


 
PRODUKTIVITAS KERJA KARYAWAN DALAM ORGANISASI

PEMBAHASAN

      A.   Pengertian Pengukuran  Kinerja

Pengukuran kinerja adalah proses di mana organisasi menetapkan parameter hasil untuk dicapai oleh program, investasi, dan akusisi yang dilakukan. Proses pengukuran kinerja seringkali membutuhkan penggunaan bukti statistik untuk menentukan tingkat kemajuan suatu organisasi dalam meraih tujuannya. Tujuan mendasar di balik dilakukannya pengukuran adalah untuk meningkatkan kinerja secara umum. Pengukuran kinerja merupakan alat manajemen untuk meningkatkan kualitas pengambilan keputusan dan akuntabilitas[1].
Pengukuran kinerja dilakukan untuk memastikan apakah pengambilan keputusan dilakukan secara tepat dan obyektif. Kita juga bisa memantau dan mengevaluasi pelaksanaan kinerja dan membandingkannya dengan rencana kerja serta melakukan tindakan untuk memperbaiki kinerja periode berikutnya. Terjadinya peningkatan atau penurunan produktivitas bisa ditunjukkan dari kegiatan ini. Pengukuran kinerja adalah suatu proses penilaian kemajuan pekerjaan terhadap tujuan dan sasaran yang telah ditentukan sebelumnya[2].
Setiap organisasi atau lembaga menjalankan seluruh kegiatan operasionalnya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkannya. Setiap organisasi atau lembaga tersebut terdiri dari elemen para pelaku atau pegawai yang memiliki tugas dan tanggung jawab yang harus dilaksanakan secara sendiri-sendiri maupun berkelompok dengan tujuan untuk mengefisienkan dan mengoptimalkan pencapaian tujuan yang akan dicapai. Para pegawai yang terdapat dalam lembaga sangat mempengaruhi kinerja lembaga, hal ini dikarenakan para pegawai tersebut merupakan penggerak utama bagi setiap kegiatan yang ada dan sangat berperan aktif dalam upaya mencapai tujuannya. Tercapainya tujuan sebuah lembaga hanya dimungkinkan karena upaya para pegawai sebagai pelaku yang terdapat pada lembaga tersebut.
Peran yang dimiliki oleh para pegawai sebagai penggerak utama bagi setiap kegiatan dalam lembaga untuk mengetahui seberapa jauh tingkat pencapaian tujuan yang telah didapat lembaga, diperlukan sebuah sistem penilaian terhadap kinerja pegawai yang telah dilakukan. Hal ini merupakan suatu kegiatan yang dapat menggambarkan baik buruknya hasil sebuah lembaga dapat dilihat dengan jelas. Penilaian kinerja ini juga bermanfaat untuk lembaga agar dapat menentukan dengan tepat apa saja yang perlu diperbaiki oleh lembaga tersebut[3].
Definisi pengukuran kinerja juga telah dikemukakan oleh beberapa ahli seperti Mahmudi (2005: 7), mengatakan bahwa:Pengukuran kinerja merupakan suatu proses penilaian pekerjaan terhadap pencapaian tujuan dan sasaran yang telah ditentukan, termasuk informasi mengenai efisiensi penggunaan sumber daya dalam menghasilkan barang dan jasa, kualitas barang dan jasa, perbandingan hasil kerja kegiatan dengan target dan efektivitas tindakan dalam mencapai tujuan. Pengukuran kinerja perlu ditentukan apakah yang menjadi tujuan penilaian tersebut, apakah pengukuran kinerja tersebut untuk menilai hasil kerja (performance outcomes) ataukah menilai perilaku personal (personality). Oleh karena itu pengukuran kinerja minimal mencakup tiga variabel yang harus menjadi pertimbangan yaitu, perilaku (proses), output (produk langsung suatu program) dan dampak program (outcomes). Pengertian lain tentang pengukuran kinerja yang dikemukakan oleh Mulyadi (2007: 419) adalah sebagai penentu secara periodik efektivitas operasional suatu organisasi, bagian organisasi, dan karyawan berdasarkan sasaran, standar dan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya.
Definisi-definisi pengukuran kinerja yang telah dikemukakan tersebut menggambarkan dengan jelas bahwa yang dimaksud dengan pengukuran kinerja yaitu sebuah proses kegiatan penilaian terhadap kinerja dengan variabel tertentu yang sesuai dengan faktor-faktor yang membentuk kinerja tersebut untuk melihat apakah tujuan dari lembaga tersebut telah tercapai dengan baik atau belum. Pegawai sebagai pelaku utama dalam menjalankan kegiatan lembaga tersebut perlu juga dilakukan penilaian terhadap kinerjanya[4].
      B. Manfaat – manfaat Pengukuran Kinerja Karyawan

Ada beberapa manfaat pengukuran kinerja bagi pihak – pihak yang bersangkutan, yakni : (Rivai & Basri : 2004 : 55)
        1. Manfaat bagi karyawan yang dinilai
          Bagi karyawan yang dinilai, keuntungan pelaksanaan pengukuran kinerja adalah                  (Rivai&Basri,2004 :58), antara lain:
a)      Meningkatkan motivasi
b)      Meningkatkan kepuasan hidup
c)      Adanya kessempatan untuk berkomunikasi ke atas
d)     Peningkatan pengertian tentang nilai pribadi
e)      Adanya pandangan yang lebih jelas tentang konteks pekerjaan
f)       Meningkatkan hubungan yang aktif dan harmonis dengan atasan.
g)      Pengetahuan tentang kekuatan dan kelemahan menjadi lebih besar.

             2. Manfaat bagi penilai (supervisor / manager/ penyelia )
           Bagi penilai, manfaat pelaksanaan pengukuran kinerja (Rivai&Basri, 2004 : 60) adalah;
a)      Kesempatann untuk mengukur dan mengidentifikasi kecenderungan kinerja karyawan untuk perbaikan manajemen selanjutnya.
b)      Kesempatan untuk mengembaangkan suatu pandangan umum tentang pekerjaan individu dan departemen yang lengkap.
c)      Memberikan peluang untuk mengembangkan system pengawasan baik untuk pekerjaaan manajer sendiri maupun pekerjaan dari bawahannya.
d)     Identifikasi gagasan untuk peningkatan tentang penilaian pribadi
e)      Peningkatan kepuasan kerja
f)       Dapat sebagai sarana meningkatkan motivasi  karyawan dengan lebih memusatkan perhatian kepada mereka secara pribadi.
g)      Merupakan kesempatan berharga bagi manajer agar dapat menilai kembali apa yang telah dilakukan sehingga ada kemungkinan merevisi target atau menyusun prioritas kembali.
h)      Bisa mengidentifikasikan kesempatan untuk rotasi atau perubahan tugas  karyawan


            3. Manfaat bagi perusahaan
          Bagi perusahaan, manfaat pengukuran  kinerja adalah, (Rivai&Basri, 2004 : 62) antara lain:
a)      Perbaikan seluruh simpul unit-unit yang ada dalam perusahaan karena:
Komunikasi menjadi lebih efektif mengenai tujuan perusahaan dan nilai budaya perusahaan,  peningkatan rasa kebersamaan dan loyalitas, peningkatan kemampuan dan kemauan manajer untuk menggunakan keterampilan dan keahlian memimpinnya untuk memotivasi karyawan dan mengembangkan kemauan dan keterampilan karyawan.
b)      Meningkatkan pandangan secara luas menyangkut tugas yang dilakukan oleh masing-masing karyawan.
c)      Meningkatkan kualitas komunikasi
d)     Meningkatkan motivasi karyawan secara keseluruhan
e)      Meningkatkan keharmonisan hubungan dalam pencapaian tujuan perusahaan
f)       Peningkatan segi pengawasan melekat dari setiap kegiatan yang dilakukan oleh setiap karyawan
g)       Harapan dan pandangan jangka panjang dapat dikembangkan
h)       Untuk mengenali lebih jelas pelatihan dan pengembangan yang dibutuhkan
i)        Kemampuan menemu kenali setiap permasalahan
Terdapat juga beberapa manfaaat secara umum mengenai pengukuran kinerja diantaranya yakni :
1. untuk mengevaluasi seberapa baik suatu organisasi berkinerja. Proses evaluasi ini terdiri dari dua variabel: data kinerja organisasi dan patokan yang menciptakan suatu kerangka untuk menganalisis data kinerja tersebut.



2. Untuk Mengendalikan
Manajer memiliki kebutuhan untuk memastikan bahwa bawahan mereka telah melakukan pekerjaan mereka secara benar. Organisasi pun menciptakan sistem pengukuran yang menentuan tindakan tertentu apa yang harus dilakukan oleh karyawan. Setelah itu, mereka pun mengevaluasi apakah sang karyawan betul-betul telah melakukan apa yang telah ditugaskan kepada mereka dan membandingkannya dengan standar kinerja.
2    3. Untuk Menganggarkan
Anggaran adalah perangkat mentah untuk meningkatkan kinerja. Kinerja yang buruk tidak selalu berubah menjadi baik ketika dilakukan pemotongan anggaran sebagai tindakan disipliner. Terkadang penaikan anggaran lah yang menjadi jawaban untuk peningkatan kinerja.
     4.  Untuk Memotivasi
Para karyawan perlu diberikan target yang signifikan untuk mereka raih dan lalu menggunakan ukuran kinerja - termasuk target antara- untuk memfokuskan ernergi para karyawan dan memberikan perasaan telah mencapai sesuatu. Target kinerja juga bisa mendorong munculnya kreativitas dalam mengembangkan cara-cara yang lebih baik untuk mencapai suatu tujuan.
    5.  Untuk Merayakan
      Organisasi perlu memperingati prestasi-prestasi yang mereka raih, karena ritual semacam peringatan ini bisa mengikat orang-orang yang ada di dalam tim, memberikan mereka perasaan terikat. Perayaan merupakan aktivitas yang mengeksplisitkan pengakuan atas prestasi dan pencapaian.Untuk Bisa Belajar
Pembelajaran merupakan suatu hal yang dibutuhkan oleh organisasi untuk bisa terus berkembang. Pembelajaran ini bisa didapat dengan mengevaluasi kinerja sendiri, semisal dengan mengidentifikasi apa-apa saja yang berhasil dan yang tidak. Dengan mengevaluasi hal ini, organisasi akan bisa pelajari alasan di balik kinerja baik dan buruk.
6   6. Untuk Mengembangkan
Organisasi harus belajar tentang apa-apa yang harus dilakukan secara berbeda untuk memperbaiki kinerja. Oleh karenanya organisasi membutuhkan umpan balik untuk menilai kesesuaian rencana dan arahan serta target sehingga bisa didapatkan pengertian mana-mana saja perihal yang perlu diperbaiki dan dikembangkan[5].
    C. Metode Pengukuran Kinerja Karyawan
1.      Metode Skala Peringkat Grafis
Skala peringkat grafis adalah skala yang menuliskan sejumlah indikator dan jangkauan nilai kinerja untuk setiap indikator. Karyawan kemudian dinilai dengan mengidentifikasi nilai yang paling sesuai dengan tingkatan kinerjanya untuk setiap indikator. Seperti ditekankan sebelumnya, pengusaha harus memutuskan kinerja apa yang akan diukur. Di sini, terdapat banyak pilihan. Pengusaha dapat memilih dimensi generik seperti kualitas dan kuantitas. Pilihan lainnya adalah menilai kinerja pada kewajiban actual pekerjaan.
2.      Metode Peringkat Alternasi
Memberikan peringkat kepada karyawan dari yang terbaik sampai yang terburuk berdasarkan indikator tertentu, dengan memilih yang terbaik, lalu yang terburuk, sampai semua telah diberi peringkat.[6] Metode peringkat alternasi adalah yang paling populer. Pertama, tuliskan semua bawahan yang akan diberi peringkat, kemudian keluarkan nama yang tidak cukup dikenal dengan baik untuk diberi peringkat. Kemudian, tandai karyawan terbaik untuk karakterisitik yang diukur dan juga karyawan yang terburuk. Pilih terbaik dan terburuk berikutnya, teruskan membuat alternasi antara terbaik dan terburuk sampai semua karyawan telah diberi peringkat.
3.      Metode Perbandingan Berpasangan
Melakukan pemeringkatan karyawan dengan membuat diagram dari semua pasangan karyawan yang mungkin untuk setiap indikator dan menentukan karyawan mana yang lebih baik pada setiap pasangan. Misalnya Anda memiliki lima karyawan untuk dinilai. Dalam metode perbandingan berpasangan, Anda membuat grafik, dari semua pasangan karyawan yang memungkinkan untuk setiap indicator. Kemudian, untuk setiap indicator tandai (dengan + atau -) siapa karyawan yang lebih baik dari pasangan tersebut. Kemudian, tambahkan jumlah + untuk setiap karyawan. Semisal, Maria ada di peringkat tertinggi (memiliki + terbanyak) untuk kualitas kerja, dimana Art ada di peringkat tertinggi untuk indicator kreativitas.

4.      Metode Distribusi Kekuatan
Sama dengan menilai pada sebuah kurva; persentase dugaan dari yang dinilai ditempatkan dalam berbagai kategori kinerja. Misalnya, Anda dapat memutuskan untuk mendistribusikan karyawan sebagai berikut:
15% kinerja tinggi
20% kinerja rata-rata tinggi
30% kinerja rata-rata
20% kinerja rata-rata rendah
15% kinerja rendah
(proporsi dalam setiap kategori tidak harus simetris; GE menggunakan 20% puncak, 70% menengah, 10% rendah, untuk manajer). Seperti untuk siswa di sekolah, distribusi buatan berarti dua hal bagi karyawan: tidak semua orang dapat mendapatkan nilai A; kinerja seseorang selalu diperingkat relative terhadap pasangannya. Jika teknologi tidak mendukung, cara sederhana yang dapat dilakukan adalah menuliskan nama setiap karyawan pada kartu indeks terpisah. Kemudian, untuk setiap indicator (kualitas kerja, kreativitas, dan lain-lain), tempatkan kartu karyawan dalam kategori kinerja yang tepat.
5.      Metode Kejadian Kritis
Menyimpan catatan tentang contoh-contoh hal baik yang tidak umum atau hal buruk yang tidak dikehendaki atas perilaku karyawan yang berhubungan  dengan pekerjaan dan meninjau catatan itu dengan karyawan pada waktu yang telah ditentukan sebelumnya.[7] 
Metode ini memiliki beberapa keuntungan. Ia memberikan contoh actual kinerja baik dan buruk yang dapat digunakan oleh manajer untuk menjelaskan penilaian seseorang. Hal ini memastikan bahwa manajer memikirkan tentang penilaian bawahannya sepanjang tahun. Peringkat tidak hanya menggambarkan sebagian besar kinerja terbaru karyawan. Daftar ini diharapkan dapat memberikan contoh apa yang dapat dilakukan secara spesifik oleh bawahan untuk menghilangkan kekurangan. Namun, tanpa suatu peringkat numerik, metode ini tidak terlalu bermanfaat untuk membandingkan karyawan atau membuat keputusan gaji. Metode ini berguna untuk mengumpulkan kejadian-kejadian yang erat kaitannya dengan tujuan-tujuan karyawan.
   D. Strategi  Pengukuran Kinerja Karyawan
Proses pengukuran kinerja terdiri dari tiga tahap: mendefinisikan pekerjaan, mengukur atau menilai kinerja, dan memberikan umpan balik.[8] Pendefinisian pekerjaan berarti memastikan bahwa Anda dan bawahan Anda setuju dengan kewajiban dan standar pekerjaannya. Pengukuran atau penilaian kinerja berarti membandingkan kinerja sesungguhnya dari bawahan Anda dengan standar yang telah ditetapkan; ini biasanya melibatkan beberapa jenis formulir peringkat. Ketiga, penilaian kerja biasanya membutuhkan sesi umpan balik. Disini atasan dan bawahan mendiskusikan kinerja dan kemajuan bawahan, dan membuat rencana untuk pengembangan apapun yang dibutuhkan.
Manajer secara umum melakukan penilaian sendiri dengan bantuan asumsi awal dan metode formal. Pertimbangan mendasar dalam merencanakan perangkat pengukuran atau penilaian actual adalah mengukur apa dan bagaimana mengukurnya. Memilih untuk mengukur apa adalah hal yang yang penting dalam penialian kinerja karyawan. 
Cara meminimalisir masalah-masalah yang harus dihindari dalam pengukuran kinerja. Pertama, pelajari dan pahami potensi masalah, dan solusi (seperti klarifikasi standar) untuk setiap masalah. Pemahaman terhadap maslah dapat membantu manajer untuk menghindari masalah pengukuran kinerja. Kedua, gunakan perangkat penilaian yang benar, setiap peringkat memiliki pro dan kontra masing-masing. Ketiga, melatih manajer untuk mengurangi kesalahan peringkat seperti efek halo, kelonggaran dan kecenderungan terpusat. Keempat, menyimpan catatan harian – seimbang dengan usahanya. Satu studi melibatkan 112 manajer lini pertama dari perusahaan elektronik besar.[9] Beberapa melaksanakan program pelatihan khusus mengenai menyimpan catatan harian.    


[1] http://id.wikipedia.org/wiki/Pengukuran_kinerja. diunduh pada tanggal 27 Oktober 2013.

[5] http://id.wikipedia.org/wiki/Pengukuran_kinerja. diunduh pada tanggal 29 Oktober 2013.

[6] Ibid, hal 328
[7] Ibid, hal 331
[8] Gary Desseler. 2006. Manajemen Sumber Daya Manusia edisi kesepuluh jilid 1. Jakarta: PT Indeks, hal 327
[9] Ibid, hal 343