Pemimpin yang Ideal
A. Takhrijul
Hadist
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِي
ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ إِمَامٌ عَادِلٌ وَشَابٌّ نَشَأَ فِي
عِبَادَةِ اللَّهِ وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ فِي خَلَاءٍ فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ
وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسْجِدِ وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ
وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ إِلَى نَفْسِهَا قَالَ
إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا
تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا صَنَعَتْ يَمِينُهُ “.
Artinya :
Ada tujuh golongan
yang Allah beri naungan pada hari kiamat di bawah naungan-Nya dimana tidak ada
naungan kecuali naungan-Nya: seorang pemimpin yang adil, seorang pemuda yang
tumbuh dalam beribadah kepada Allah, seorang yang berdzikir kepada Allah dalam
keadaan sendiri lalu berlinang air matanya, seorang laki-laki yang hatinya
terpaut dengan masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah, seorang
lelaki yang dirayu oleh seorang wanita berkedudukan dan berparas cantik lalu ia
berkata: sesungguhnya aku takut kepada Allah, seorang yang bersedekah lalu dia
menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang dikerjakan
oleh tangan kanannya.” (Oleh Imam Bukhari dalam shahihnya dari hadits Abu Hurairah
Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu’alaihi wasallam).
B.
Penjelasan Hadist
1. Adil adalah memberikan
hak kepada orang yang berhak menerimanya tanpa ada pengurangan, dan meletakkan
segala urusan pada tempat yang sebenarnya tanpa ada aniaya, dan mengucapkan
kalimat yang benar tanpa ada yang ditakuti kecuali terhadap Allah swt saja. Menurut Drs.
Kahar Masyhur mendefinisikan adil yakni 1. Meletakkan sesuatu pada tempatnya 2.
Menerima hak tanpa lebih dan memberikan hak orang lain tanpa kurang 3.
Memberikan hak setiap yang berhak secara lengkap tanpa lebih tanpa kurang
anatara sesama yang berhak , dalam keadaan yang sama dan penghukuman orang
jahat atau yang melanggar hukum sesuai dengan kesalahan pelanggarnya. Allah SWT
berfirman dalam surat an-Nisa ayat 135 yang artinya : Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu
orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun
terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun
miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti
hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar
balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah
Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.
Islam menyeru untuk berlaku adil sekalipun dalam suatu permasalahan,
seperti yang terdapat dalam surat Al-Ma’idah yang artinya : Hai orang-orang
yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan
(kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali
kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil.
Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. Dan bertakwalah
kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Adil disejajarkan dengan perbuatan kebajikan,
karena adil sendiri adalah memberikan hak kepada yang punya. Sehingga orang
yang diberikan hak merasa senang dan bahagia. Allah memerintahkan agar beraku adil dan siapa pun yang melanggarnya
niscaya akan menghadapi hukuman yang mengerikan :
ان ا لله ياءمر بالعدل والاحسان
وايتاء ذى القربى وينهى عن الفحشا والمنكر والبغي يعظكم لعلكم تذكرون
Artinya : sesungguhnya
Allah menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebajikan , member kepada kaum
kerabat dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia
member pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.
Adil mengandung suatu
pengertian yang menyeluruh, meliputi semua norma tingkah laku yang baik. Namun
agama islam menuntut hal yang lebih mendalam dan manusiawi lagi yaitu agar
mengerjakan berbagai kebaikan sekalipun mungkin itu tidak dituntut sepenuhnya
oleh rasa keadilan itu sendiri, seperti membalas dengan kebaikan atas perbuatan
jahat, atau membantu orang lain yang sebenarnya dalam bahasa dunia ini ‘tak
berhak’ menuntut (pertolongan) darimu, dan tentu saja memenuhi berbagai tuntutan
orang – orang yang mana tuntutan mereka diperlukan dalam kehidupan masyarakat.
Demikian pula sebaliknya, dalamhal – hall yang harus dicegah , semua hal yang
dianggap memalukan, tidak baik dan segala bentuk pengingkaran terhadap hukum
Allah baik secara nyata maupun tersembunyi di dalam batin dalam hal – hal yang
sangat mendasar. Nabi Muhammad SAW telah diperintahkan Allah untuk menyampaikan
kepada umat manusia agar berlaku adil, sebagaimana firmannya :
قل امرربي بالقسط
Katakanlah : Tuhanku
menyuruh menjalankan keadilan, dan perintah itu diulang lagi dalam firman – Nya :
ان الله ياءمركم ان تؤدواالامنت
الى اهلها واذا حكمتم بين الناس ان تحكموا بالعدل
Artinya : sesunguhnya
Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan
(menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum diantara manusia supaya kamu
menetapkan dengan adil.
Keadilan itu berasal dri
sifatnya Allah dan menegakkan keadilan dengan tegar merupakansuatu kesaksian
untuk membela agama Allah, sekalipun menurut anggapan kita akan
merugikankepentingan sedniri atau kepentingan mereka yang dekat dan saying
kepada kita. Prinsip teguhseperti ini dalam peribahasa latin dikatakan “
Tegakkan keadilan, sekalipun langit akan runtuh”.[1]
2. Seorang pemimpin yang adil adalah seorang yang mengikuti perintah Allah dengan meletakkan
sesuatu pada tempatnya tanpa berlebihan dan tidak pula meremehkan, maka dialah
yang termasuk di antara yang mendapatkan perlindungan Allah pada hari kiamat
pada hari yang tiada naungan kecuali naungannya, dan bahwa dia termasuk diantara
ahli surga.
Adil bagi seorang pemimpin merupakan satu keharusan dimana pemimpin yang adil
adalah merupakan kendaraan bagi rakyatnya untuk mencapai keridloan Allah di
dunia dan di akhirat. Adil merupakan sifat rukun bagi segala sesuatu sampai
pada sebuah bangunan karena sebuah bangunan tidak akan tegak kecuali dengan
adil. Apabila pemimpin adil maka negeri dan rakyat akan menjadi baik dan
kekuasaannya menjadi wasilah menuju ridlo Allah dan kemenangan surga, begitu
pula dengan pemimpin dholim yang merusak negeri dan rakyat, dan menyebabkan
perbuatan maksiat merajalela, maka keburukannya juga akan menular kepada negeri
dan rakyatnya. Dan dikeluarkan pula oleh Imam Muslim dalam shahihnya dari
‘Iyyadh bin Himar al- mujasyi’i bahwa Rasululullah Shallallahu’alaihi wasallam
bersabda:
“أَهْلُ
الْجَنَّةِ ثَلَاثَةٌ ذُو سُلْطَانٍ مُقْسِطٌ مُتَصَدِّقٌ مُوَفَّقٌ وَرَجُلٌ
رَحِيمٌ رَقِيقُ الْقَلْبِ لِكُلِّ ذِي قُرْبَى وَمُسْلِمٍ وَعَفِيفٌ مُتَعَفِّفٌ
ذُو عِيَالٍ
Artinya : penduduk surga ada tiga golongan: penguasa yang adil,
bersedekah dan mendapat taufik, dan seorang yang pengasih, berhati lembut
kepada setiap kerabat dan setiap muslim, seorang yang miskin dan memelihara
kehormatannya (merasa cukup dengan apa yang ada), dan memiliki tanggungan
keluarga. [2]
Pemimpin yang adil
adalah yang bijaksana dalam kepemimpinannya, dan seorang penguasa yang adil
tidak tertolak do’anya sebagaimana yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dalam
sunan-nya dari hadits Abu Hurairah berkata: bersabda Rasulullah
Shallallahu’alaihi wasallam :
:” ثَلَاثَةٌ
لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَالْإِمَامُ الْعَادِلُ
وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ يَرْفَعُهَا اللَّهُ فَوْقَ الْغَمَامِ وَيَفْتَحُ لَهَا
أَبْوَابَ السَّمَاءِ وَيَقُولُ الرَّبُّ وَعِزَّتِي لَأَنْصُرَنَّكِ وَلَوْ
بَعْدَ حِينٍ
Keadilan
sendiri juga memiliki prinsip dalam menjaga keseimbangan kepentingan, maka asas
keadilan harus benar – benar dijaga agar tidak muncul stigma – stigma keadilan
seperti kelompok marginal dan lain – lain. Firman Allah dalam surat shaad (38)
ayat 26 : yang artinya : Hai Daud, sesungguhnya kami menjadikan kamu khalifah
(penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) diantara manusia
dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan
kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang – orang yang sesat dari jalan Alah
akan mendapatkan azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.[3]
Banyak ayat
al-qur’an yang memerintahkan umat islam agar berlaku adil. Sejak awal, Allah
menyuruh para Rasul – Nya dengan tiga perintah yang ditujukan untuk menegakkan
keadilan serta memberi petunjuk kepada seluruh umat manusia, guna menuju kepada
jalan keselamatan.
لقد ارسلنا رسلنا بالبينت وانزلنا معهم الكتب والمينزان ليقوم الناس بالقسط
لقد ارسلنا رسلنا بالبينت وانزلنا معهم الكتب والمينزان ليقوم الناس بالقسط
Artinya : sesungguhnya Kami telah mengutus
rasul – rasul Kami dengan membawa bukti – bukti yang nyata dan telah Kami
turunkan Al – Kitab dan neraca (keadilan) bersama mereka supaya manusia dapat
melaksanakan keadilan.[4]
3. Syarat – syarat pemimpin yang adil
a.
Beriman dan
beramal shaleh, maksudnya kita harus
memilih pemimpin orang yang beriman, bertaqwa, selalu menjalankan perintah
Allah dan Rasulnya.
b.
Niat yang lurus,
maksudnya kalau kita memiliki niat yang baik pasti semuanya terlaksana dengan
baik, tapi jika kita memiliki niat yang buruk maka buruk pula yang akan
terjadi.
c.
Laki
– laki, maksudnya laki laki adalah
pemimpin kaum wanita, lakai – laki yang lebih berhak untuk memipin.
d.
Tidak meminta
jabatan, Rasulullah bersabda kepada Abdurrahmn bin Samurah Radhiyallahu ‘anhu,
“ wahai Abdul Rahman bin Samurah, janaganlah kamu meminta untuk menjadi
pemimpin. Sesungguhnya jika kepemimpinan diberikan kepadamu karena permintaan,
maka kamu akan memikul tanggungjawab sendirian dan jika kepemimpinan itu
diberikan kepadamu bukan karena permintaan, maka kamu akan dibantu untuk
menaggungnya. “( Riwayat Bukhari dan Muslim).
e.
Memutuskan
perkara dengan adil, maksdunya adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya,
memutuskan perkara harus atas dasar keadilan, karena kita diminta
pertanggungjawaban di akhirat nanti.
f.
Menasihati
rakyat, para pemimpin harus menasehati rakyatnya agar tercipta lingkungan yang
disiplin sesuai dengan keinginan kita bersama.
g.
Tidak menerima
hadiah, maksudnya disini ialah pemimpin yang adil tidak akan menerima sogokan
dari siapapun termasuk orang terdekatnya sekalipun.
h.
Tegas. Ini
merupakan sikap seorang pemimpin yang selalu di idam – idamkan oleh rakyatnya.
Tegas bukan berarti otoriter, tapi tegas maksudnya adalah yag benar berkata
benar dan salah berkata salah. Serta melaksanakan aturan hukum yang berlakau.
i.
Lemah lembut.
Pemimpin yang lemah lembut bukan berarti pemimpin yang lemah, tapi pemimpin
yang jujur, bila seorang pemimpin jujur maka tidak akan ada lagi KPK, karena
tidak ada lagi korupsi yang terjadi yang membawa ketenangan, kitapun
diperintahkan jujur walaupun itu menyakitkan. Selain itu pemimpin tidak boleh
menutup diri saat diperlukan rakyatnya. Karena itu seorang pemimpin harus ahli
sehingga dapat dipercaya. Pemimpin juga harus cerdas, seorang pemimpin jika
tidak cerdas maka ia tidak dapat menyelesaikan masalah rakyatnya dan ia tidak
dapat memajukan apa yang dipimpinnya.[5]
4. Persyaratan pemimpin
Dalam pembahasan lain dijelaskan bahwa
syarat pemimpin di dalam islam haruslah mempunyai sifat :
a. Siddiq artinya jujur, benar, berintegrasi tinggi
dan terjaga dari kesalahan.
b. Fathonah artinya cerdas, memiliki
intelektualitas tinggi dan professional.
c. Amanah artinya dapat dipercaya, memiliki
legitimasi dan akuntabel.
d. Tabligh artinya senantiasa menyampaikan risalah kebenaran, tidak pernah
menyembunyikan apa yang wajib disampaikan dan komunikatif.[6]
5. Manfaat Adil
a.
Keadilan
dalam bidang pendidikan. Keadilan harus diterapkan dimanapun tempatnya, karena
dengan adanya keadilan maka tidak aka ada yang namanya ketidak nyamanan. Dalam
hal ini bisa di analogikan kepada pemerintahan yakni dalam hal pendidikan.
Menteri pendidikan selaku penguasa yang memiliki tanggungjawab kepada para
rakyatnya dalam hal pendidikan. Pendidikan diadakan sebagai salah satu
alternative untuk memajukan bangsa, dengan adanya pendidikan yang memadahi,
maka menjadikan para generasi penerus bangsa untuk selalu memperjuangkan
kemerdekaan yang telah diraih. Pemerintah memberikan keadilan pada semua
kalangan untuk menikmati bangku pendidikan. Tidak hanya para pejabat atau
bangsawan yang berhak dan bisa menikmati bangku pendidikan sampai jenjang
tinggi, akan tetapi orang jelata atau
rakyat biasa pun bisa menikmati bangku pendidikan, dan tetntunya mendapatkan
pelayanan yang sama dengan mereka – mereka yang berdarah bangsawan. Hal ini dibuktikan
dengan adanya pencanangan beasiswa dari pemerintahan yang bersangkutan. Besiswa diadakan untuk kalangan masyarakat yang dalam hal
taraf ekonomi masih kurang, sehingga untuk tidak memutuskan semangat belajar
para kalangan masyarakat yang berpotensi dengan cara seperti itu keadilan yang
diwujudkan oleh pemerintah dan menteri yang bersangkutan selaku pemimpin bagi
para masyarakat. Begitu juga untuk kalangan bangsawan yang memiliki potensi
juga terdapat suatu beasiswa, hal itu
diwujudkan dengan cara beasiswa untuk mereka – mereka yang berprestasi.
Sekalipun ekonomi mencukupi, jika mereka memiliki potensi yang lebih, maka
pemerintah memberikan keadilan yang sama yakni dengan memberikan besiswa atas
prestasi kepada para yang berhak menerimanya.
b.
Keadilan
dalam bidang ekonomi. Mengenai keadilan yang berhubungan dengan ekonomi yang
dialami oleh masyarakat miskin. Dari pihak pemerintah untuk memberikan keadilan
bagi mereka dalam hal ekonomi yaitu : (1) bantuan hukum bagi masyarakat miskin (2) kebebasan memperoleh
informasi yang bersifat umum (3) pelayanan administrasi pemerintahan
yang bebas korupsi, efisien dan transparan (4) pengaturan upah minimum regional bagi
tenaga kerja (5) pemerataan Hasil Pendapatan Pusat dan Daerah (6) jaminan Keamanan bagi
Semua Anggota Masyarakat.[7]
c.
Keadilan dalam bidang kesehatan. Tindakan para pemimpin yang bersangutan dalam
memberikan keadilan dalam hal ini , salah satu yang dijalankan oleh
pemerintahan di Jepara yaitu (1) Menyelenggarakan pembinaan pelayanan kesehatan agar dapat
terwujud pelayanan kesehatan yang bermutu, merata, menyeluruh dan terjangkau. (2) Meningkatkan kinerja pelayanan kesehatan melalui pembuatan
kebijakan regulasi kesehatan, peningkatan mutu sumber daya kesehatan
serta pemantapan kompetensi profesi.[8]
C. Analisis Penjelasan Hadist
Meski hadis ini menjelaskan tentang tujuh macam
karakter orang yang dijamin keselamatannya oleh allah nanti pada hari kiamat,
namun yang sangat ditekankan oleh hadis ini adalah karakter orang yang pertama,
yaitu pemimpin yang adil. Bukannya kita menyepelekan enam karakter sesudahnya,
akan tetapi karakter pemimpin yang adil memang menjadi tonggak bagi
kemaslahatan seluruh umat manusia. Tanpa pemimpin yang adil maka kehidupan ini
akan terjebak ke dalam jurang penderitaan yang cukup dalam.
Untuk melihat sejauh mana seorang peimimpin itu
telah berlaku adil terhadap rakyatnya adalah melalui keputusan-keputusan dan
kebijakan yang dikeluarkannya. Bila seorang pemimpin menerapkan hukum secara
sama dan setara kepada semua warganya yang berbuat salah atau melanggar hukum, tanpa
tebang pilih, maka pemimpin itu bisa dikatakan telah berbuat adil. Namun
sebaliknya, bila pemimpin itu hanya menghukum sebagian orang (rakyat kecil)
tapi melindungi sebagian yang lain (elit/konglomerat), padahal mereka sama-ama
melanggar hukum, maka pemimpin itu telah berbuat dzalim dan jauh dari perilaku
yang adil. Semua orang yang hidup di muka bumi ini disebut sebagai pemimpin.
Karenanya, sebagai pemimpin, mereka semua memikul tanggung jawab,
sekurang-kurangnya terhadap dirinya sendiri. Contoh: Seorang suami bertanggung jawab atas istrinya,
seorang bapak bertangung jawab kepada anak-anaknya, seorang majikan bertanggung jawab kepada pekerjanya, seorang
atasan bertanggung jawab kepada bawahannya, dan seorang presiden, bupati,
gubernur bertanggung jawab kepada rakyat yang dipimpinnya, dst. Dengan
demikian, karena hakekat kepemimpinan adalah tanggung jawab serta kejujuran dan
wujud tanggung jawab adalah kesejahteraan, maka apabila seorang pemimpin, katakanlah presiden,
dalam memimpin negerinya hanya sebatas menjadi “pemerintah” saja, namun tidak
ada upaya serius untuk mengangkat rakyatnya dari jurang kemiskinan menuju
kesejahteraan, maka presiden tersebut belum bisa dikatakan telah bertanggung
jawab. Karena tanggung jawab seorang presiden harus diwujudkan dalam bentuk
kebijakan yang berpihak pada rakyat kecil dan kaum miskin, bukannya berpihak
pada konglomerat dan teman-teman dekat. Oleh sebab itu, bila keadaan sebuah
bangsa masih jauh dari standar kesejahteraan, maka tanggung jawab pemimpinnya
masih perlu dipertanyakan.
[2] http://wwwwingkycommunity.blogspot.com/2011/10/pengertian-adil-ridha-dan-amal-saleh.html. diunduh pada tanggal 1 april 2013.
[3] Veithzal Rivai dan Deddy
Mulyadi. Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi ( Jakarta : Rajawali Pers,
2010), 11.
[5] http://politik.kompasiana.com/2013/03/13/betapa-susahnya-melahirkan-pemimpin-yang-adil-536777.html.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar